Improving Students Narrative Reading Comprehension Through Guided Reading for Junior High School

Penulis        : Rahadian Suryanta / 1205284 / 2012 / KP

Pembimbing: Fitrawati, S.S., M.A.

Abstract

This paper explains about the implementation of “Guided Reading” strategy in teaching reading especially in teaching narrative text. In this strategy, the teacher chooses the text which is appropriate with the students’ ability and the teacher uses a picture to develop their background knowledge. Guided Reading strategy is begun by dividing the students into some groups that consist of 3-4 members. After that, the teacher distributes the text to each member of the group and prepares students to read the text by developing their background knowledge, knowing the vocabulary from the text, and knowing the purpose of reading the text. After knowing the purpose of reading the text, students read the text silently in order to increase the students’ concentration. After reading the text, the teacher provides worksheets that contain assignments to connect the story (narrative text) with the students’ experience and discuss it in group. Then, the student asks to rewrite the story which is helped by answering some questions that have been provided by the teacher. The last, the teacher gives tests to the students to find out their understanding and comprehending about the text. By using this strategy, the students are hoped having better English reading skill especially in reading narrative text.

Keywords: Teaching Reading, Narrative text, Guided Reading Strategy


Makalah ini menjelaskan tentang penerapan strategi “Guided Reading” dalam pembelajaran membaca khususnya pada teks naratif. Dalam strategi ini, guru memilih teks yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswanya dan menggunakan gambar sebagai alat bantu untuk mengembangkan pengetahuan dasar siswanya. Strategi ini dimulai dengan membagi siswa ke dalam kelompok yang terdiri dari 3-4 anggota. Setelah itu guru membagikan teks kepada siswa dan mempersiapkan siswa untuk membaca teks dengan mengembangkan pengetahuan dasar mereka, mengenal kosa kata dalam teks, serta mengetahui tujuan membaca teks. Setelah mengetahui tujuan membaca, murid membaca teks dalam hati supaya dapat lebih berkonsentrasi. Ketika murid selesai membaca, guru memberikan LKS yang berisi penugasan untuk menginterpretasikan isi cerita (teks narasi) dengan kehidupan sehari-hari dan mendiskusikannya dalam kelompok. Selanjutnya siswa diminta menuliskan kembali isi cerita dibantu dengan cara menjawab beberapa pertanyaan yang telah disediakan oleh guru. Langkah terakhir guru memberi tes kepada murid untuk menguji ingatan dan pemahaman mereka. Strategi ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami isi teks terutama teks naratif.

Kata Kunci: Pengajaran membaca, teks naratif, Guided Reading Strategy

Using Rosetta Stone As Learning Media To Increase Speaking Skill For Junior High School Students

Penulis          : Peby Yurdean / 96512 / 2009 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

English teaching is increasingly growing as time advances. Using new technologies are already widely used in teaching, but there are still some obstacles often encountered. Using the same method or media in learning English is still used by teachers because of the limited knowledge of other methods or media. This makes learning look stiff and unattractive, students became bored in the learning process, especially in the teaching of speaking. To resolve this issue, teachers need to require alternative solutions to overcome those difficulties. One of them is uses technology-based teaching that called CAI. This paper describes about the use of Rosetta Stone, one tool of CAI. Rosetta Stone is an interactive software for teaching foreign languages to beginners. This software can be used as a medium by teachers in teaching English to Junior High School students in enhancing the ability of Speaking. This program does not use the idea or concept to use a translation to remember a new language. Instead it combine words, sounds and images from real life to provide information about the new language without translation.

Keywords: teaching Speaking, Junior High School students, CAI, Rosetta Stone


Pengajaran bahasa Inggris saat ini semakin hari semakin berkembang seiring kemajuan zaman. Menggunakan teknologi-teknologi baru sudah banyak dipakai dalam pengajaran, namun masih ada beberapa kendala yang sering ditemui. Menggunakan metode atau media yang sama dalam pembelajaran bahasa Inggris masih digunakan oleh para guru karena terbatasnya pengetahuan akan metode atau media yang lain. Hal ini membuat pembelajaran terlihat kaku dan tak menarik, murid pun menjadi bosan dalam proses belajar mengajar yang khususnya dalam pengajaran berbicara. Untuk mengatasi masalah ini guru membutuhkan solusi alternatif agar kesulitan itu bisa teratasi. Salah satunya menggunakan pengajaran berbasis teknologi yaitu CAI. Makalah ini memaparkan tentang penggunaan salah satu alat dari CAI yaitu Rosetta Stone. Rosetta Stone yang merupakan software interaktif untuk pengajaran bahasa asing kepada pemula. Software ini dapat digunakan sebagai media oleh guru dalam mengajarkan bahasa Inggris untuk siswa SMP dalam meningkatkan kemampuan Speaking. Program ini tidak menggunakan ide atau konsep memakai terjemahan untuk mengingat bahasa yang baru. Akan tetapi menggabungkan kata-kata, suarasuara dan gambar-gambar dari kehidupan nyata untuk memberi informasi tentang bahasa baru tersebut tanpa menerjemahkannya.

Kata Kunci: pengajaran Speaking, siswa SMP, CAI, Rosetta Stone

Using Dialogic Reading Strategy to Teach English to Young Learners

Penulis          : Oktavia / 1201014 / 2012 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

This paper explains about the implementation of dialogic reading strategy to teach English to Elementary school student’s grade 6 in learning English. The writer will explains the procedures and the advantages of dialogic reading strategy. Grover Whitehurst a psychology found this strategy. This strategy uses the acronym PEER (Prompt, Evaluate, Extend and Repeat) and CROWD (Completion prompts, Recall prompts, Open-ended prompts, Wh-prompts, and Distancing prompts). This strategy helps students to use more words, speak in longer sentences, improving their vocabulary and practice their English.

Keywords: Dialogic Reading Strategy, Teaching English to Young Learners.


Makalah ini membahas penggunaan strategi Dialogic Reading dalam membantu siswa kelas 6 Sekolah Dasar untuk mengerti pelajaran bahasa Inggris. Penulis akan membahas prosedur serta manfaat dari strategi Dialogic Reading. Strategi ini dikembangkan pertama kali oleh seorang psikolog asal Amerika bernama Grover Whitehurst. Strategi ini menggunakan akronim PEER (Prompt, Evaluate, Extend and Repeat) dan CROWD (Completion prompts, Recall prompts, Open-ended prompts, Wh-prompts, and Distancing prompts). Strategi ini dapat membantu siswa dalam menggunakan lebih banyak kata-kata, berbicara dengan kalimat yang lebih panjang, meningkatkan pengetahuan siswa dalam mempelajari kosa-kata dan siswa juga dapat mempraktekan kemampuan bahasa mereka.

Kata Kunci: Dialogic Reading Strategi, pembelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak.


 

Using “Alibi Game” to Teach Oral Recount Text to Senior High School Students

Penulis          : Mella Wiani Putri / 1100965 / 2011 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

Speaking skills in learning is a priority for teaching English of foreign learners. Most of students still have difficulties in speaking English related with the correct forms and rules of grammar and tenses. So that, the appropriate technique of teaching and learning is needed to solve the students‟ problem. ”Alibi Game” is a game which aimed to improve students‟ speaking ability, especially in telling the chronological event in oral recount text. In implementing this game, at the beginning of the lesson, the teacher has to introduce the topic that will be learned. The teacher then explains the material about recount in general before getting into the game. Alibi game has 3 parts that help students‟ problems in oral recount. They are discussion, interrogation and conclusion parts. The process of the game requires students to tell in past tense which is the language feature of recount.

Keywords: Alibi game, Recount.


Kemampuan berbicara merupakan prioritas utama dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Kebanyakan siswa masih memiliki kesulitan dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris terkait dengan penggunaan grammar serta tenses yang benar. Oleh karena itu, dibutuhkan teknik yang cocok dan sesuai dalam proses pengajaran dan pembelajaran untuk memecahkan permasalahan yang dialami siswa.” Alibi Game” merupakan suatu permainan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa, khususnya dalam menceritakan kronologi kejadian dalam recount teks secara lisan. Dalamteknikini, pada awal pembelajaran, guru memperkenalkan topik yang akan dipelajari terlebih dahulu. Guru kemudian menjelaskan materi tentang recount secara ringkas sebelum nantinya akan dilanjutkan pada proses permainan alibi. “Alibi Game” memiliki tiga bagian yang membantu siswa dalam recount secara lisan, yaitu bagian diskusi, interogasi dan konklusi. Proses dari permainan ini mengharuskan siswa untuk bercerita menggunakan simple past tense, yang mana simple past adalah salah satulanguage feature yang banyak terdapat di dalam recount teks.

Kata Kunci: Permainan Alibi, Recount


Using “Mime Game” to Teach Vocabulary to Young Learners

Penulis          : Mardhatillah / 1200983 / 2012 / KP

Pembimbing : Dr. Ratmanida, M.Ed.

Abstract

In this paper, the author discusses the use of ‘mime game’ in teaching English vocabulary for young learners. To teach young learners, we must first understand their characteristics and needs. The fact is that young learners love to play. Therefore, learning through playing is the most appropriate way to teach them. One of them is to use the game called as “mime game”. Teaching through “mime game” will be begun with classes will be formed into a half circle and then a student will be given a word. Furthermore, the chosen students will be in the middle class while giving expression by using gesture and the other students try to guess the word in question. Young learners are also very fond of moving and imagining. By using “mime game”, young learners will get moved by using their own way and imagine to guess a certain word. Basically, young learners will easily remember what they learn when they feel happy, comfortable, love, and enjoy what they do.

Keywords: Mime Game, Teaching Vocabulary, Young Learners.


Dalam makalah ini, penulis membahas tentang penggunaan “mime game” dalam pengajaran kosa kata bahasa inggris untuk anak-anak. Untuk memberikan pengajaran pada anak-anak, kita terlebih dahulu harus memahami karakteristik dan kebutuhan mereka. Faktanya adalah anak-anak sangat suka bermain. Maka dari itu, belajar sambil bermain adalah cara yang paling tepat untuk mengajar mereka. Salah satunya adalah dengan menggunakan game yaitu “mime game”. Pengajaran melalui “mime game” ini dimulai dengan: kelas akan dibentuk menjadi setengah lingkaran lalu seorang siswa akan dipilih untuk diberi sebuah kata. Selanjutnya, siswa yang terpilih akan berada di tengah tengah kelas seraya berekspresi dengan memberi isyarat gerak dan siswa lainnya mencoba untuk menebak kata yang dimaksud. Anak-anak juga sangat suka bergerak dan berimajinasi. Dengan penggunaaan “mime game” ini, anak anak akan bergerak dengan cara mereka masing-masing dan berimajinasi untuk menebak sebuah kata tertentu. Pada dasarnya, anak anak akan mudah mengingat apa yang mereka pelajari ketika mereka merasa senang, nyaman, suka, dan menikmati apa yang mereka lakukan.

Kata Kunci: Mime Game, Teaching Vocabulary, Young Learners.

The Use of Funbrain Game to Improve Young Learners’ English Mastery

Penulis          : Ito Wardiah / 1200985 / 2012 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

In this modern area, many children prefer to play rather than learning, especially in English language which is not understood by the children. Because of that, the teacher should develop how to teach English to the young learners without making the child bored in learning. Therefore, to make the children wants to learn English the teacher can teach them by playing because the children love to play. In writing this paper, the author will discuss about the using of Fun-brain to increase the intelligence of a child’s brain to know English. Fun – Brain is games that can be done online by teaching English to the young learners and to get know the English language through play. By playing, the young learners can study harder and memorizing vocabulary that they find in Fun – Brain game. Teachers can teach English to play and to make the children happy in learning English, so that the children can use the English that they learned in their daily life. This paper is expected to provide new insights for teachers or education to improve learning and teaching English for young learners which is usually at an early age, the child’s brain formation will begin to form and will continue to grow along with the child’s age. With the strategy of Fun – Brain can be used to form the brains of young learners up is not too difficult to recognize a foreign language to him. Also expected to increase the motivation of the young learners to learn by playing.

Keywords: Game, Fun brain, Teacher.


Mengingat bahwa bagaimana sekarang ini banyak anak – anak yang lebih senang bermain dari pada belajar terutama dalam pembelajaran bahasa Inggris yang sangat tidak dimengerti oleh anak – anak, maka sudah selayaknya guru yang bersangkutan seperti guru mata pelajaran itu sendiri dapat mengembangkan bagaimana cara mengajar tanpa membuat anak merasa bosan dalam belajar. Oleh sebab itu, upaya peningkatan dalam mengajarkan bahasa Inggris dapat dilakukan dengan cara bermain yang sangat di senangi oleh anak – anak pada sekarang ini. Dalam menulis makalah ini, penulis akan membahas tentang Menggunakan Fun – Brain untuk meningkatkan kecerdasan otak anak dalam mengenal bahasa Inggris. Fun – Brain adalah sebuah game yang dapat dilakukan secara online ataupun tidak online dengan mengajarkan bahasa Inggris terhadap anak – anak untuk mengenal bahasa Inggris melalui bermain. Dengan bermain, anak – anak dapat lebih giat belajar dan menghapalkan kosa kata yang mereka temukan dalam permainan Fun – Brain. Guru dapat mengajarkan bahasa Inggris dengan bermain dan untuk membuat anak – anak senang dalam belajar bahasa Inggris sehingga anak – anak dapat menggunakan bahasa Inggris yang mereka pelajari di kehidupan sehari – hari. Makalah ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru bagi guru atau pendidikan untuk meningkatkan pembelajaran bahasa Inggris bagi anak – anak, dimana biasanya pada usia dini maka pembentukan otak anak akan mulai terbentuk dan akan terus bertumbuh seiring dengan usia anak tersebut. Dengan adanya strategi Fun – Brain dapat digunakan untuk membentuk otak anak – anak hingga tidak terlalu sulit mengenali bahasa asing pada dirinya. Juga di harapkan dapat meningkatkan motivasi anak – anak untuk dapat belajar dengan cara bermain.

Kata Kunci: Game, Fun – Brain, Guru.


Improving Students’ Vocabulary Mastery by Using Frayer Model for Senior High School Students

Penulis          : Irna Damayanti Hsb /1205286 / 2012 / KP

Pembimbing : Fitrawati, S.S., M.Pd.

Abstract

Frayer model or often called as a diagram Frayer is a very useful tool for building and mastering vocabulary that is designed specifically for teaching and learning vocabulary. Thus, frayer model is about the use of diagram which is divided into four sections and a circle in the center. The circle in the center is written with the word going to be discussed while the four sections are written with the definitions, characteristics, examples of the vocabulary being learned and also the sentences where the word can be put in. Furthermore, the use of Frayer model is expected to be able to solve the problems often found by the students, including: (1) the difficulty to find and state the meaning of word they are learning, (2) the use of the same word for several times, (3) the error in defining the the word based on the context, and (4) the difficulty to remember the word. Finally, by using frayer model continually, their vocabulary mastery can be improved, especially for Senior High School students.

Keywords: Vocabulary Mastery, Senior High School Students, Frayer Model.


Frayer model atau yang sering disebut dengan frayer diagram adalah alat yang sangat berguna untuk pengembangan dan penguasaan kosakata dan memang didesain khusus untuk pembelajaran kosakata. Dalam frayer model terdapat penggunaan diagram yang didalamnya terdapat empat bagian. Bagian-bagian tersebut kemudian diisi dengan empat jenis informasi tentang kosakata yang dipelajari, yaitu definisi, ciri-ciri dan contoh dari kosakata serta kalimat yang didalamnya terdapat kosakata tersebut. Kemudian, penggunaan frayer model ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dialami siswa dalam pembelajaran kosakata termasuk: (1) kesulitan untuk menemukan dan mengungkapkan makna dari kosakata, (2) penggunaan kata yang sama terlalu sering, (3) kesalahan dalam mendefinisikan kosakata sesuai konteks, dan (4) kesulitan dalam mengingat kosakata. Dan selanjutnya, penguasaan kosakata siswa akan mengalami peningkatan, khususnya untuk siswa tingkat Sekolah Menengah Atas.

Kata Kunci: Penguasaan Kosakata, Siswa Sekolah Menengah Atas, Frayer model.

The Use of Reward and Punishment to Increase Young Learners’ Motivation in Learning English as Foreign Languange Adapted to Indonesian Context

Penulis          : Irawati / 1200976 / 2012 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

This paper explains about the use of reward and punishment to increase young learners’ motivation in learning English as foreign language in Indonesia. The writer discusses about procedure and advantages of reward and punishment. Reward is an appreciation given by the teacher to the students who can follow the lesson well and finishing the assignment. Meanwhile, punishment is a bad treatment that is given to the students who do not focus in learning process, do not care of their assignment, and have bad habit during the class. Reward and punishment can be given through verbal and non- verbal form (action). Kinds of reward are mimic, gesture, compliment or positive feedback, point or sticker, and present. Kinds of punishment are warning, memorizing vocabulary, decreasing students’ point, and moving students’ seat. Besides to motivate student, reward and punishment also make the students become more discipline and study harder than before.

Keywords: Motivation, young learner, reward and punishment.


Makalah ini membahas penggunaan reward and punishment untuk meningkatkan motivasi siswa tahap awal atau young learners dalam belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia. Penulis membahas prosedur serta manfaat dari reward and punishment. Reward adalah penghargaan yang diberikan guru kepada siswa yang dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Sementara itu, punishment adalah bentuk hukuman yang diberikan kepada siswa yang tidak fokus dalam belajar, tidak peduli dengan tugas, dan siswa yang memiliki kebiasaan yang kurang baik. Reward and punishment dapat diberikan dalam bentuk lisan dan juga non- lisan (tindakan). Reward yang diberikan seperti, mimic, gesture, compliment
or positive feedback, point or sticker, and present. Punishment yang diberikan seperti, warning, memorizing vocabulary, decreasing students’ point, and moving
students’ seat. Selain memotivasi siswa, reward and punishment juga bisa membuat siswa lebih disiplin dan lebih giat lagi dalam belajar.

Kata kunci: Motivasi, young learner, reward and punishment.

The Use of Problem-Based Learning Method in Teaching Reading Comprehension

Penulis          : Gibran Arjuna /1200988 / 2012 / KP

Pembimbing : Dr. Jufri, M.Pd.

Abstract

Writing this paper is motivated by the lack of effectiveness process of learning English in the field of Reading Comprehension capabilities. The main objective of this paper is to investigate the use of learning model Problem Based Learning in Reading Comprehension for increasing the ability of students learning English. Problem Based Learning (PBL) is a learning model that is based on the problem where students are asked to find solutions through investigation. Steps in PBL learning model consists of five phases, namely; (1) Phase 1 shows the efforts of teachers to orient students on the problem or the material to be studied. (2) Phase 2 teacher organizes the students to learn (3) Phase 3 includes the efforts of teachers to guide in finding explanations and troubleshooting of learning materials. (4) Phase 4 in PBL activities that develop and present work, teachers give students the opportunity to others to provide feedback or another answer. (5) Phase 5 shows the efforts of teachers to analyze and evaluate the process of solving problems or learning materials. After that, the teacher can give a reward in the form of awards to students who seem active in learning process.

Keywords : Effectiveness, Problem-Based Learning, Reading Comprehension.


Penulisan makalah ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kurang efektifnya proses pembelajaran Bahasa Inggris di bidang kemampuan Reading
Comprehension. Tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dalam peningkatan kemampuan Reading Comprehension siswa pada pembelajaran Bahasa Inggris. Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang didasarkan pada permasalahan dimana siswa diminta mencari pemecahan masalah melalui penyelidikan. Langkah-langkah dalam model pembelajaran PBL terdiri dari 5 tahapan, yaitu; (1) Tahap 1 berisi upaya guru untuk mengorientasikan siswa pada masalah atau materi yang akan dipelajari. (2) Tahap 2 berisi upaya guru untuk mengorganisasikan siswa dalam belajar (3) Tahap 3 berisi upaya guru untuk membimbing menemukan penjelasan dan pemecahan masalah dari materi pembelajaran. (4) Tahap 4 dalam kegiatan PBL yaitu mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru memberi kesempatan kepada siswa lain untuk memberikan masukan atau jawaban lain. (5) Tahap 5 berisi upaya guru untuk menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah atau materi pembelajaran. Setelah itu, guru dapat memberikan penghargaan berupa reward kepada siswa yang berani maju ataupun aktif dalam pembelajaran.

Kata kunci: Efektifitas, Model Problem Based Learning, Kemampuan Reading Comprehension.

Teaching Speaking by Using Short Cartoon Movies to Senior High School Students

Penulis          : Fitrona Hadryanti /1201035 / 2012 / KP

Pembimbing : Drs. Don Narius, M.Si.

Abstract

Speaking ability is very important in English learning to make it easier for someone to exchange information or ideas with others. However, there are still many high school students having problems in speaking. Therefore, the teachers’ teaching techniques should consider increasing students’ motivation, confidence and maximizing speaking activities in the classroom. The use of short cartoon movies is one of the teaching techniques to help teachers tackle the problems. In this technique, students will watch a short cartoon movie based on the topics to be studied. After discussing the events in the movie, the teacher will lead students to be able retelling the movie in pairs in front of the class. By using this technique, students can increase their confidence to speak, reduce boredom due to the use of interesting media and also to improve their behavior through moral values in the story.
Key words: Speaking, Short Cartoon Movies


Kemampuan berbicara sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk memudahkan seseorang untuk bertukar informasi atau ide dengan orang lain. Namun, masih banyak siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang memiliki permasalahan dalam hal berbicara. Oleh karena itu, teknik pengajaran guru sangat perlu diperhatikan untuk meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa serta memaksimalkan kegiatan berbicara dalam kelas speaking. Penggunaan film kartun pendek (short cartoon movies) merupakan salah satu teknik pengajaran untuk membantu guru mengatasi masalah tersebut. Pada teknik ini, siswa akan menonton sebuah film kartun pendek berdasarkan topik yang akan dipelajari. Setelah mendiskusikan kejadian-kejadian di dalam film, guru akan mengarahkan siswa untuk dapat menceritakan kembali film tersebut secara berpasangan di depan kelas. Melalui teknik ini, siswa dapat meningkatkan kepercayaan dirinya untuk berbicara, mengurangi kebosanan karena penggunaan media yang menarik serta meningkatkan aspek sikap mereka melalui nilai-nilai moral yang terdapat di dalam cerita.
Kata kunci: Speaking, Short Cartoon Movies.