An Analysis of Accuracy in Translating a News Item Text Done by The First Grade Students of SMA N 2 Tilatang Kamang

Penulis          : Fikri Kurnia / 1100943 / 2011 / KP

Pembimbing : 1. Dr. Hamzah, M.A., M.M.

                        2. Drs. Saunir Saun, M.Pd.

Abstract

This research analyse the translation work of the students in translating a news item text from English into Bahasa Indonesia. The design of the research is descriptive research. The population of this research is the first grade students of SMA N 2 Tilatang Kamang, Agam of 2015/2016 academic year. The sample of this research are 35 students chosen by using simple random sampling technique. The focus of this research are the accuracy level of the students’ work in translating a news item and the errors made by the students that make the result of the students’ translation become less accurate or not accurate. The data obtained through translation test as the instrumentation of this research. The data are assessed by using accuracy rating instrument. The result of the research shows that the average score is 1.92, with 32 (91.43%) students of the population are in less accurate level. Based on the students’ translation test result, the errors made by the students related to the accuracy are the addition of the words or information which are not related to the context, the omission the essential words or information, the word-for-word translation, and inappropriate choices of word.

Keywords: translation, news item text, accuracy rating instrument


Penelitian ini mengkaji hasil terjemahan siswa dalam menerjemahkan sebuah news item text dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif (descriptive research). Populasi dari penelitian ini adalah siswa kelas X di SMA Negeri 2 Tilatang Kamang, Agam tahun ajar 2015/2016 yang terdiri dari empat kelas dan sampel penelitian ini berjumlah 35 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah begaimana tingkat ke akuratan hasil terjemahan siswa dalam menerjemahkan sebuah news item text serta kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa kelas X sehingga didapatkan hasil terjemahan siswa tersebut less accurate atau not accurate. Data dikumpulkan melalui translation test sebagai instrumen yang digunakan dalam penelitian. Data yang didapat dari tes tersebut dinilai dengan menggunakan Accuracy Rating Instrument. Berdasarkan data yang diperoleh, ditemukan bahwa skor rata-rata didapatkan yaitu 1.92 yang dimana 32 siswa (91.43%) dari populasi dengan tingkatan less accurate. Temuan penelitian juga menunjukkan beberapa kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah masalah yang berhubungan dengan keakuratan terjemahan siswa yang meliputi penambahan kata atau informasi yang tidak sesuai dengan konteks, penghilangan kata atau informasi penting, menerjemahkan kata-per-kata, dan pemilihan kata yang tidak tepat.

Kata kunci: translation, news item text, accuracy rating instrument

The Analysis Of Cultural Content in Reading Passages of The English Textbooks Bahasa Inggris for Senior High School Grade X-XII

Penulis          : Ana Sakinah / 1100971/2011/ KP

Pembimbing : 1. Dr. M. Zaim, M.Hum.

                        2. Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

This research is a descriptive research which is intended to reveal the cultural aspects and how cultural contents are presented in reading passages. The data in this research was obtained from the English textbooks entitled Bahasa Inggris for Senior High School grade X-XII written based on curriculum 2013 by Kemendikbud RI. This research employed the descriptive approach with the instrument was the cultural content checklist. After conducting the research, the cultural aspects found in the reading passages were religion and religious rituals; history and politics; foods and drinks; ecology; economy; leisure time, music, and arts; dressing; science and literature; social behaviors and etiquette; family and male-female relationship; naming systems; geographical names; cultural products; and tribe. Based on the data in this research, it was revealed that Indonesian cultural contents were dominantly used in the reading passages. Furthermore, the presentation of cultural contents was found in forms of monologues, dialogues, and pictures. Since Indonesian cultural contents dominated the reading passages, the evaluation towards these three textbooks need to be conducted. The cultural contents of the target culture need to be added into the reading passages.

Keywords: cultural contents, cultural content checklist, Indonesian culture, target culture, English textbooks


Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menganalisis aspek kultural dan menganalisis bagaimana konten kultural dipresentasikan dalam teks bacaan. Sumber data penelitian ini didapat dari buku teks berjudul Bahasa Inggris untuk SMA/MA kelas X, XI, dan XII yang ditulis berdasarkan kurikulum 2013 oleh Kemendikbud RI. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan instrumen berupa cultural content checklist. Setelah penelitian dilakukan, aspek kultural yang ditemukan dalam teks bacaan ketiga buku berjudul Bahasa Inggris tersebut adalah agama dan ritual keagamaan; sejarah dan politik; makanan dan minuman; pendidikan; ekologi; ekonomi; kegiatan di waktu senggang, music, dan seni; pakaian; sains dan literature; perilaku sosial dan etika; nama-nama geografis; produk kebudayaan; dan suku. Dari data konten kultural yang diperoleh pada penelitian, ditemukan bahwa kultur Indonesia digunakan lebih banyak dibandingkan kultur target (kultur Inggris dan Amerika Serikat). Sementara presentasi konten kultural ditemukan dalam bentuk monolog, dialog, dan gambar yang berfungsi memberi ilustrasi pada isi bacaan. Melihat lebih banyaknya konten kultural Indonesia dalam teks bacaan di buku ini, maka buku ini perlu dievaluasi kembali. Penambahan konten kultural target pada teks bacaan perlu dilakukan.

Kata Kunci: konten kultural, cultural content checklist, kultur Indonesia, kultur target, buku teks bahasa Inggris

 

Using Verbal Linguistics Intelligence Activity – Story Telling to Teach Narrative Text for Improving Speaking Ability of Grade 8 Junior High School Students

Penulis          : Rahmi Rahayu / 12261 / 2009 / KP

Pembimbing : Dr. Zul Amri, M.Ed.

Abstract

Makalah ini memaparkan tentang bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbicara siswa dengan menggunankan aktifitas kemampuan verbal linguistik. Di awal proses pembelajaran, guru memaparkan informasi terkait dengan topik yang akan dipelajari. Informasi ini dapat mengingatkan kembali pengetahuan siswa tentang topik yang akan didiskusikan, serta dapat digunakan juga untuk mengetahui pemahaman siswa tentang topik tersebut. Kemampuan verbal linguistik dibutuhkan untuk memahami dengan baik informasi terkait topik yang dipelajari. Kemampuan verbal linguistik adalah kemampuan untuk memikirkan kata-kata dan menggunakannya untuk menyampaikan ide kepada orang lain. Siswa menggunakan kemampuan verbal linguistik ketika berbicara dengan yang lainnya. Dalam proses pembelajaran kemampuan ini sangatlah penting untuk mengetahui pemahaman siswa serta bagaimana meningkatkannya. Berdasarkan penjabaran tersebut, dengan meningkatnya kemampuan verbal linguistik siswa, siswa akan lebih mudah memahami topik yang akan dipelajari dan ini akan meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Karena semakin siswa memahami topik yang dipelajari maka siswa akan dengan mudah menyampaikan ide mereka tentang topik yang dipelajari.

Kata Kunci: Verbal Linguistic Intelligence Activities, Speaking

Improving Students Narrative Reading Comprehension Through Guided Reading for Junior High School

Penulis        : Rahadian Suryanta / 1205284 / 2012 / KP

Pembimbing: Fitrawati, S.S., M.A.

Abstract

This paper explains about the implementation of “Guided Reading” strategy in teaching reading especially in teaching narrative text. In this strategy, the teacher chooses the text which is appropriate with the students’ ability and the teacher uses a picture to develop their background knowledge. Guided Reading strategy is begun by dividing the students into some groups that consist of 3-4 members. After that, the teacher distributes the text to each member of the group and prepares students to read the text by developing their background knowledge, knowing the vocabulary from the text, and knowing the purpose of reading the text. After knowing the purpose of reading the text, students read the text silently in order to increase the students’ concentration. After reading the text, the teacher provides worksheets that contain assignments to connect the story (narrative text) with the students’ experience and discuss it in group. Then, the student asks to rewrite the story which is helped by answering some questions that have been provided by the teacher. The last, the teacher gives tests to the students to find out their understanding and comprehending about the text. By using this strategy, the students are hoped having better English reading skill especially in reading narrative text.

Keywords: Teaching Reading, Narrative text, Guided Reading Strategy


Makalah ini menjelaskan tentang penerapan strategi “Guided Reading” dalam pembelajaran membaca khususnya pada teks naratif. Dalam strategi ini, guru memilih teks yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswanya dan menggunakan gambar sebagai alat bantu untuk mengembangkan pengetahuan dasar siswanya. Strategi ini dimulai dengan membagi siswa ke dalam kelompok yang terdiri dari 3-4 anggota. Setelah itu guru membagikan teks kepada siswa dan mempersiapkan siswa untuk membaca teks dengan mengembangkan pengetahuan dasar mereka, mengenal kosa kata dalam teks, serta mengetahui tujuan membaca teks. Setelah mengetahui tujuan membaca, murid membaca teks dalam hati supaya dapat lebih berkonsentrasi. Ketika murid selesai membaca, guru memberikan LKS yang berisi penugasan untuk menginterpretasikan isi cerita (teks narasi) dengan kehidupan sehari-hari dan mendiskusikannya dalam kelompok. Selanjutnya siswa diminta menuliskan kembali isi cerita dibantu dengan cara menjawab beberapa pertanyaan yang telah disediakan oleh guru. Langkah terakhir guru memberi tes kepada murid untuk menguji ingatan dan pemahaman mereka. Strategi ini diharapkan akan meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami isi teks terutama teks naratif.

Kata Kunci: Pengajaran membaca, teks naratif, Guided Reading Strategy

Using Rosetta Stone As Learning Media To Increase Speaking Skill For Junior High School Students

Penulis          : Peby Yurdean / 96512 / 2009 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

English teaching is increasingly growing as time advances. Using new technologies are already widely used in teaching, but there are still some obstacles often encountered. Using the same method or media in learning English is still used by teachers because of the limited knowledge of other methods or media. This makes learning look stiff and unattractive, students became bored in the learning process, especially in the teaching of speaking. To resolve this issue, teachers need to require alternative solutions to overcome those difficulties. One of them is uses technology-based teaching that called CAI. This paper describes about the use of Rosetta Stone, one tool of CAI. Rosetta Stone is an interactive software for teaching foreign languages to beginners. This software can be used as a medium by teachers in teaching English to Junior High School students in enhancing the ability of Speaking. This program does not use the idea or concept to use a translation to remember a new language. Instead it combine words, sounds and images from real life to provide information about the new language without translation.

Keywords: teaching Speaking, Junior High School students, CAI, Rosetta Stone


Pengajaran bahasa Inggris saat ini semakin hari semakin berkembang seiring kemajuan zaman. Menggunakan teknologi-teknologi baru sudah banyak dipakai dalam pengajaran, namun masih ada beberapa kendala yang sering ditemui. Menggunakan metode atau media yang sama dalam pembelajaran bahasa Inggris masih digunakan oleh para guru karena terbatasnya pengetahuan akan metode atau media yang lain. Hal ini membuat pembelajaran terlihat kaku dan tak menarik, murid pun menjadi bosan dalam proses belajar mengajar yang khususnya dalam pengajaran berbicara. Untuk mengatasi masalah ini guru membutuhkan solusi alternatif agar kesulitan itu bisa teratasi. Salah satunya menggunakan pengajaran berbasis teknologi yaitu CAI. Makalah ini memaparkan tentang penggunaan salah satu alat dari CAI yaitu Rosetta Stone. Rosetta Stone yang merupakan software interaktif untuk pengajaran bahasa asing kepada pemula. Software ini dapat digunakan sebagai media oleh guru dalam mengajarkan bahasa Inggris untuk siswa SMP dalam meningkatkan kemampuan Speaking. Program ini tidak menggunakan ide atau konsep memakai terjemahan untuk mengingat bahasa yang baru. Akan tetapi menggabungkan kata-kata, suarasuara dan gambar-gambar dari kehidupan nyata untuk memberi informasi tentang bahasa baru tersebut tanpa menerjemahkannya.

Kata Kunci: pengajaran Speaking, siswa SMP, CAI, Rosetta Stone

Using Dialogic Reading Strategy to Teach English to Young Learners

Penulis          : Oktavia / 1201014 / 2012 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

This paper explains about the implementation of dialogic reading strategy to teach English to Elementary school student’s grade 6 in learning English. The writer will explains the procedures and the advantages of dialogic reading strategy. Grover Whitehurst a psychology found this strategy. This strategy uses the acronym PEER (Prompt, Evaluate, Extend and Repeat) and CROWD (Completion prompts, Recall prompts, Open-ended prompts, Wh-prompts, and Distancing prompts). This strategy helps students to use more words, speak in longer sentences, improving their vocabulary and practice their English.

Keywords: Dialogic Reading Strategy, Teaching English to Young Learners.


Makalah ini membahas penggunaan strategi Dialogic Reading dalam membantu siswa kelas 6 Sekolah Dasar untuk mengerti pelajaran bahasa Inggris. Penulis akan membahas prosedur serta manfaat dari strategi Dialogic Reading. Strategi ini dikembangkan pertama kali oleh seorang psikolog asal Amerika bernama Grover Whitehurst. Strategi ini menggunakan akronim PEER (Prompt, Evaluate, Extend and Repeat) dan CROWD (Completion prompts, Recall prompts, Open-ended prompts, Wh-prompts, and Distancing prompts). Strategi ini dapat membantu siswa dalam menggunakan lebih banyak kata-kata, berbicara dengan kalimat yang lebih panjang, meningkatkan pengetahuan siswa dalam mempelajari kosa-kata dan siswa juga dapat mempraktekan kemampuan bahasa mereka.

Kata Kunci: Dialogic Reading Strategi, pembelajaran bahasa Inggris untuk anak-anak.


 

Using “Alibi Game” to Teach Oral Recount Text to Senior High School Students

Penulis          : Mella Wiani Putri / 1100965 / 2011 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

Speaking skills in learning is a priority for teaching English of foreign learners. Most of students still have difficulties in speaking English related with the correct forms and rules of grammar and tenses. So that, the appropriate technique of teaching and learning is needed to solve the students‟ problem. ”Alibi Game” is a game which aimed to improve students‟ speaking ability, especially in telling the chronological event in oral recount text. In implementing this game, at the beginning of the lesson, the teacher has to introduce the topic that will be learned. The teacher then explains the material about recount in general before getting into the game. Alibi game has 3 parts that help students‟ problems in oral recount. They are discussion, interrogation and conclusion parts. The process of the game requires students to tell in past tense which is the language feature of recount.

Keywords: Alibi game, Recount.


Kemampuan berbicara merupakan prioritas utama dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Kebanyakan siswa masih memiliki kesulitan dalam berbicara menggunakan Bahasa Inggris terkait dengan penggunaan grammar serta tenses yang benar. Oleh karena itu, dibutuhkan teknik yang cocok dan sesuai dalam proses pengajaran dan pembelajaran untuk memecahkan permasalahan yang dialami siswa.” Alibi Game” merupakan suatu permainan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berbicara siswa, khususnya dalam menceritakan kronologi kejadian dalam recount teks secara lisan. Dalamteknikini, pada awal pembelajaran, guru memperkenalkan topik yang akan dipelajari terlebih dahulu. Guru kemudian menjelaskan materi tentang recount secara ringkas sebelum nantinya akan dilanjutkan pada proses permainan alibi. “Alibi Game” memiliki tiga bagian yang membantu siswa dalam recount secara lisan, yaitu bagian diskusi, interogasi dan konklusi. Proses dari permainan ini mengharuskan siswa untuk bercerita menggunakan simple past tense, yang mana simple past adalah salah satulanguage feature yang banyak terdapat di dalam recount teks.

Kata Kunci: Permainan Alibi, Recount


Using “Mime Game” to Teach Vocabulary to Young Learners

Penulis          : Mardhatillah / 1200983 / 2012 / KP

Pembimbing : Dr. Ratmanida, M.Ed.

Abstract

In this paper, the author discusses the use of ‘mime game’ in teaching English vocabulary for young learners. To teach young learners, we must first understand their characteristics and needs. The fact is that young learners love to play. Therefore, learning through playing is the most appropriate way to teach them. One of them is to use the game called as “mime game”. Teaching through “mime game” will be begun with classes will be formed into a half circle and then a student will be given a word. Furthermore, the chosen students will be in the middle class while giving expression by using gesture and the other students try to guess the word in question. Young learners are also very fond of moving and imagining. By using “mime game”, young learners will get moved by using their own way and imagine to guess a certain word. Basically, young learners will easily remember what they learn when they feel happy, comfortable, love, and enjoy what they do.

Keywords: Mime Game, Teaching Vocabulary, Young Learners.


Dalam makalah ini, penulis membahas tentang penggunaan “mime game” dalam pengajaran kosa kata bahasa inggris untuk anak-anak. Untuk memberikan pengajaran pada anak-anak, kita terlebih dahulu harus memahami karakteristik dan kebutuhan mereka. Faktanya adalah anak-anak sangat suka bermain. Maka dari itu, belajar sambil bermain adalah cara yang paling tepat untuk mengajar mereka. Salah satunya adalah dengan menggunakan game yaitu “mime game”. Pengajaran melalui “mime game” ini dimulai dengan: kelas akan dibentuk menjadi setengah lingkaran lalu seorang siswa akan dipilih untuk diberi sebuah kata. Selanjutnya, siswa yang terpilih akan berada di tengah tengah kelas seraya berekspresi dengan memberi isyarat gerak dan siswa lainnya mencoba untuk menebak kata yang dimaksud. Anak-anak juga sangat suka bergerak dan berimajinasi. Dengan penggunaaan “mime game” ini, anak anak akan bergerak dengan cara mereka masing-masing dan berimajinasi untuk menebak sebuah kata tertentu. Pada dasarnya, anak anak akan mudah mengingat apa yang mereka pelajari ketika mereka merasa senang, nyaman, suka, dan menikmati apa yang mereka lakukan.

Kata Kunci: Mime Game, Teaching Vocabulary, Young Learners.

The Use of Funbrain Game to Improve Young Learners’ English Mastery

Penulis          : Ito Wardiah / 1200985 / 2012 / KP

Pembimbing : Dra. An Fauzia Rozani Syafei, M.A.

Abstract

In this modern area, many children prefer to play rather than learning, especially in English language which is not understood by the children. Because of that, the teacher should develop how to teach English to the young learners without making the child bored in learning. Therefore, to make the children wants to learn English the teacher can teach them by playing because the children love to play. In writing this paper, the author will discuss about the using of Fun-brain to increase the intelligence of a child’s brain to know English. Fun – Brain is games that can be done online by teaching English to the young learners and to get know the English language through play. By playing, the young learners can study harder and memorizing vocabulary that they find in Fun – Brain game. Teachers can teach English to play and to make the children happy in learning English, so that the children can use the English that they learned in their daily life. This paper is expected to provide new insights for teachers or education to improve learning and teaching English for young learners which is usually at an early age, the child’s brain formation will begin to form and will continue to grow along with the child’s age. With the strategy of Fun – Brain can be used to form the brains of young learners up is not too difficult to recognize a foreign language to him. Also expected to increase the motivation of the young learners to learn by playing.

Keywords: Game, Fun brain, Teacher.


Mengingat bahwa bagaimana sekarang ini banyak anak – anak yang lebih senang bermain dari pada belajar terutama dalam pembelajaran bahasa Inggris yang sangat tidak dimengerti oleh anak – anak, maka sudah selayaknya guru yang bersangkutan seperti guru mata pelajaran itu sendiri dapat mengembangkan bagaimana cara mengajar tanpa membuat anak merasa bosan dalam belajar. Oleh sebab itu, upaya peningkatan dalam mengajarkan bahasa Inggris dapat dilakukan dengan cara bermain yang sangat di senangi oleh anak – anak pada sekarang ini. Dalam menulis makalah ini, penulis akan membahas tentang Menggunakan Fun – Brain untuk meningkatkan kecerdasan otak anak dalam mengenal bahasa Inggris. Fun – Brain adalah sebuah game yang dapat dilakukan secara online ataupun tidak online dengan mengajarkan bahasa Inggris terhadap anak – anak untuk mengenal bahasa Inggris melalui bermain. Dengan bermain, anak – anak dapat lebih giat belajar dan menghapalkan kosa kata yang mereka temukan dalam permainan Fun – Brain. Guru dapat mengajarkan bahasa Inggris dengan bermain dan untuk membuat anak – anak senang dalam belajar bahasa Inggris sehingga anak – anak dapat menggunakan bahasa Inggris yang mereka pelajari di kehidupan sehari – hari. Makalah ini diharapkan dapat memberikan pandangan baru bagi guru atau pendidikan untuk meningkatkan pembelajaran bahasa Inggris bagi anak – anak, dimana biasanya pada usia dini maka pembentukan otak anak akan mulai terbentuk dan akan terus bertumbuh seiring dengan usia anak tersebut. Dengan adanya strategi Fun – Brain dapat digunakan untuk membentuk otak anak – anak hingga tidak terlalu sulit mengenali bahasa asing pada dirinya. Juga di harapkan dapat meningkatkan motivasi anak – anak untuk dapat belajar dengan cara bermain.

Kata Kunci: Game, Fun – Brain, Guru.


Improving Students’ Vocabulary Mastery by Using Frayer Model for Senior High School Students

Penulis          : Irna Damayanti Hsb /1205286 / 2012 / KP

Pembimbing : Fitrawati, S.S., M.Pd.

Abstract

Frayer model or often called as a diagram Frayer is a very useful tool for building and mastering vocabulary that is designed specifically for teaching and learning vocabulary. Thus, frayer model is about the use of diagram which is divided into four sections and a circle in the center. The circle in the center is written with the word going to be discussed while the four sections are written with the definitions, characteristics, examples of the vocabulary being learned and also the sentences where the word can be put in. Furthermore, the use of Frayer model is expected to be able to solve the problems often found by the students, including: (1) the difficulty to find and state the meaning of word they are learning, (2) the use of the same word for several times, (3) the error in defining the the word based on the context, and (4) the difficulty to remember the word. Finally, by using frayer model continually, their vocabulary mastery can be improved, especially for Senior High School students.

Keywords: Vocabulary Mastery, Senior High School Students, Frayer Model.


Frayer model atau yang sering disebut dengan frayer diagram adalah alat yang sangat berguna untuk pengembangan dan penguasaan kosakata dan memang didesain khusus untuk pembelajaran kosakata. Dalam frayer model terdapat penggunaan diagram yang didalamnya terdapat empat bagian. Bagian-bagian tersebut kemudian diisi dengan empat jenis informasi tentang kosakata yang dipelajari, yaitu definisi, ciri-ciri dan contoh dari kosakata serta kalimat yang didalamnya terdapat kosakata tersebut. Kemudian, penggunaan frayer model ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dialami siswa dalam pembelajaran kosakata termasuk: (1) kesulitan untuk menemukan dan mengungkapkan makna dari kosakata, (2) penggunaan kata yang sama terlalu sering, (3) kesalahan dalam mendefinisikan kosakata sesuai konteks, dan (4) kesulitan dalam mengingat kosakata. Dan selanjutnya, penguasaan kosakata siswa akan mengalami peningkatan, khususnya untuk siswa tingkat Sekolah Menengah Atas.

Kata Kunci: Penguasaan Kosakata, Siswa Sekolah Menengah Atas, Frayer model.